Cerita nostalgia seputar aktifitas ngambing di Kereta Api (KA).
Apa itu ngambing? Berasal dari kata dasar kambing. Kambing yang dimaksud disini adalah orang yang menaiki kereta api secara ilegal atau disebut sebagai ‘penumpang gelap’. Sebutan ini populer di kalangan railfan (penggemar kereta api) di kurun waktu tahun 2012 kebawah.
Sepengetahuan dan seingat saya setelah 2012, aktifitas ‘menyenangkan’ ini perlahan-lahan mulai ditertibkan (alias dilarang keras hehehe), sebenarnya aktifitas ngambing ya dari dulu dari jaman PJKA ya sebenarnya termasuk aktifitas yang ilegal, dan juga kadang membahayakan. Tetapi pada masa-masa itu aktifitas ini terkesan lumrah begitu saja dan membudaya dikalangan pengguna kereta api kelas bawah.
Ngambing,
Sebuah aktifitas yang semakin hari semakin sulit untuk dilakukan.
Ada beberapa kategori yang termasuk dalam aktifitas ngambing ini, diantaranya adalah ;
- Menumpang kereta penumpang tanpa tiket,
- Menumpang kereta penumpang dengan membayar tiket di dalam kereta (bahasa Jawa : nyawer) kepada kondektur kereta.
- Menaiki kereta yang bukan peruntukannya untuk penumpang, misalnya menumpang di gerbong barang, atau menumpang di lokomotif tanpa ijin resmi.
Sebelum tahun 2010an, Kereta Api (KA) kelas ekonomi merupakan salah satu sasaran dari para kambing ini. Biasanya mereka memanfaatkan situasi kereta yang berdesak-desakan untuk ‘menyamarkan’ agar tidak terkena pemeriksaan tiket oleh kondektur, atau juga mereka biasanya ‘nyawer’ membayar ke kondektur. Biasanya besaran saweran itu seikhlasnya atau semaunya dari para kambing ini. Uang saweran ini pun masuk ke kantong pribadi sang kondektur. Disini barangkali bisa disebut simbiosis mutualisme antara petugas kondektur kereta api dan si kambing. Petugas diuntungkan secara finansial sementara kambing mendapat tumpangan dengan ‘tarif’ murah.
Sampai dengan tahun 2012 (setahu saya) Kereta Api (KA) barang juga kerap dinaiki oleh para kambing ini. Biasanya kambing-kambing disini merupakan para homeless seperti gelandangan, pemulung, serta orang-orang yang dalam pelarian atau berkelana bebas, juga mereka-mereka yang ditengah perjalanan kehabisan ongkos terpaksa memilih menaiki gerbong KA Barang ini.
Menaiki Gerbong, bagi saya merupakan aktifitas yang mengasyikan dan mempunyai sensasi tersendiri bila dibandingkan menaiki kereta penumpang. Suara deru dari roda gerbong dan rel menderu bersahut-sahutan.
Saya dan ayah dahulu beberapa kali ngambing di Gerbong PPCW (sebuah jenis gerbong datar terbuka yang dimuati kontainer atau petikemas). Kami menyebut aktifitas ini sebagai ‘nggembel sepur’ (artinya ngambing di kereta api).
Ngambing yang kami lakukan sebatas hanya untuk having fun saja hehehe. Dan ternyata pada era itu tidak sedikit juga railfans yang ‘hobi’ ngambing di gerbong barang. Untuk beberapa kereta barang, dibagian belakang rangkaian terdapat Gerbong Kabus, gerbong ini digunakan sebagai tempat petugas (kondektur) kereta api barang ini. Di Gerbong Kabus juga menjadi tempat favorit untuk ngambing.
Cabride lokomotif merupakan sebutan untuk kegiatan aktifitas menumpang di dalam kabin lokomotif, sementara istilah deckride merupakan aktifitas menaiki lokomotif di bagian deck lokomotif.
Di tahun 2005 saya menjumpai wartawan sebuah stasiun televisi swasta yang melakukan cabride lokomotif untuk liputan berita tentang kereta api.
Tentu seiring dengan penegakan peraturan yang berlaku sekarang ini di tubuh PT.KAI (perusahaan operator perkeretaapian di Indonesia), aktifitas ini menjadi sangat sulit dilakukan diwaktu sekarang.
Sekarang Kereta Api (KA) menjadi sarana transportasi yang aman, nyaman, bersih dan tentunya tertib. Kereta Api menjadi moda transportasi yang dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, baik kalangan bawah maupun kalangan atas. Semua perjalanan kereta penumpang dilengkapi dengan pendingin udara (AC), jaman dahulu hanya kereta api kelas eksekutif (KA eksekutif Argo dan KA eksekutif Satwa) saja yang ber-AC. Tidak diperkenankan merokok didalam kereta.
Semua penumpang kereta wajib memiliki tiket yang sesuai dengan identitas nama dan nomor tempat duduk penumpang.
Bagi kalian para railfans ‘senior’, apakah kangen dengan situasi perkeretaapian jaman dahulu?
Apa yang berkesan dari dunia perketetaapian jaman dahulu?
Leave a Reply