Syalom, Berkah dalem Gusti.
Tiga tahun absen menggereja, apa kabar Gereja?
Setelah lama tidak ke gereja, berapa waktu yang lalu saya pergi Misa mingguan di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus – Tegal, Jawa Tengah. Saya memilih ibadah di Misa Sabtu sore (perayaan Ekaristi dimulai pukul 18:00). Sampai di halaman gereja aku lihat jam di HP menunjukan pukul 17:54, pertanda misa akan segera dimulai, saya bergegas ke toilet gereja untuk merapikan rambut yang agak berantakan dan sejurus kemudian masuk ke gedung gereja.
Jam 17:54 sampai gereja, aku sebenarnya agak terlambat sampai di gereja, karena ‘seyogyanya’ datang ke gereja itu setidaknya beberapa saat (15-20 menitan) sebelum misa dimulai, tidak mepet. Ya, sepulang bekerja saya segera mandi dan bergegas siap-siap untuk ke gereja. Jadi harap dimaklumi kalau tiba di gereja udah mepet waktu Misa akan dimulai.
Dengan langkah kaki yang penuh semamgat mengikuti perayaan Misa saya menuju pintu ‘rumah Tuhan’ walaupun sebenarnya sepatu yang saya kenakan agak sedikit kurang nyaman dipakai karena ukurannya terlalu longgar namun dari luar nampak tidak kentara dan tetap terlihat stylish. Sepatu itu memang di Indonesia dikenal sebagai merk sepatu yang memiliki kualitas bagus dan harganya yaa lumayan hehehe. Sepatu itu didapat beli lewat program flashsale (diskon) di official shop resmi produsen sepatu tersebut di online marketplace yang terkenal dengan warna dominan hijau hehehe. Harganya lumayan terjangkau setelah didiskon, tetapi stoknya yang tersedia untuk diskon hanya nomor ukuran-ukuran yang masih tersedia saat itu saja. Ya jadi diakalin cari ukuran nomor yang mendekati aja.
Di pintu masuk gedung gereja (di pintu utama) disitu sudah berdiri 2 orang petugas pengatur umat yang menyambut saya dengan ramah, salahsatunya petugas pengatur umatnya adalah rekan saya saat dulu aktif di kelompok kategorial KTM di Paroki Tegal. Namanya FX. Totok Marwoto -biasa dipanggil pak Toto- dan ada satu lagi petugas yang aku kenali tapi tidak aku tahu namanya, yang jelas petugas itu warga lingkungan Carolus Boromeus, karena pada saat misa itu yang sedang mendapat giliran tugas sebagai pengatur umat adalah lingkungan CB. Di pintu masuk gereja disisi yang lain, di selasar pintu samping utara, disitu juga ada putrinya pak Toto, namanya Fabiola Keshia Liem, dia rupanya juga ikut tugas pelayanan sebagai petugas pengatur umat.
Kali ini kelihatannya Keshia bertugas tanpa ditemani kakaknya, Eleonora Carmen Liem, biasanya berdua kakak-beradik tugas pelayanan bareng.
Saya masuk gereja dan bergegas mencari bangku yang kosong, seperti biasanya saya punya kebiasaan mencari bangku gereja favorit, di deretan barisan bangku yang agak di belakang. Gak tau kenapa kok ya menurutku nyaman kalau disini heheheh.

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus – Tegal, Jawa Tengah.
Beberapa saat sebelum misa dimulai saya sejenak berdoa, kemudian berselang semenit-duamenit kemudian tiba-tiba bel gong dibunyikan oleh Misdinar (pemuda-pemudi pembantu pastor, petugas liturgi) pertanda misa dimulai.
Imam beranjak naik ke altar dan perayaan misa dimulai, misa di pimpin oleh Pastor Paroki, Romo Ag. Dwiyantoro, Pr.
Lama sudah tidak pergi ke gereja untuk beribadah dan pelayanan di gereja karena situasi pandemi dan hal-hal lain. Rasa-rasanya sudah hampir mau 3 kali Paskahan ini tidak ke gereja. Kangen juga dengan situasi-situasi dulu.
Sanggahan :
Waktu 3 tahun itu sebenarnya bukan dalam hitungan hari kalender (setahun dihitung 365 hari kalender). Aku sebenernya tidak benar-benar 3 tahun full tidak pergi ke gereja sama sekali, itu itungan kasarannya aja. Tentu selama kurun waktu tersebut aku sempat pergi ke gereja walaupun mungkin hanya 6 atau 3 bulan sekali atau sekali-kali waktu ketika ada perayaan misa hari-hari tertentu saja.Sudah hampir 3 kali hari raya Paskah (Paskah 2020, 2021, dan sampai di awal tahun 2022 ini) aku tidak aktif bergereja.
Kala itu, di bulan Maret 2020 (kalau tidak salah menjelang masa Prapaskah, sekitar Rabu Abu) pemerintah memberlakukan pembatasan kontak fisik (phisical distancing) dalamrangka menekan penyebaran virus Covid-19 (Corona virus disease 2019) yang melanda menyeluruh se-Indonesia. Pembatasan ini juga berdampak pada kegiatan keagamaan, termasuk kegiatan gerejawi.
Selama pandemi Covid-19 pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan ibadah dirumah saja. Himbauam ini juga diterbitkan oleh pihak keuskupan gereja supaya umat beribadah dirumah secara daring -dalam jaringan- (online). Ibadah secara online dirumah dengan media penyedia layanan streaming video Youtube.
Beberapa waktu kemudian kebijakan ini mulai ‘melunak’, umat diizinkan beribadah di gereja dengan syarat umat yang hadir dibatasi setiap kali sesi ibadahnya, maksimal hanya 25-30 persen dari kapasitas total bangku gereja yang tersedia (dikemudian hari di’perlunak’ lagi menjadi maksimal 50 persen dari total kapasitas). Tentu prokotol kesehatan lainnya juga berlaku ; memakai masker selama perayaan Misa berlangsung, memcuci tangan sebelum masuk gereja, cek suhu tubuh serta menjaga jarak kontak fisik yang satu dengan lainnya (tidak berkerumun).
Kegiatan-kegiatan kelompok kategorial di Paroki di batasi (bahkan divakumkan sementata waktu), termasuk pemdalaman iman. Kegiatan-kegiatan gerejawi non-ekaristi juga dilakukan secara online, biasanya melalui media plafform video call conference seperti, Zoom, GoogleMeet, dll.
Kegiatan pertemuan-pertemuan lingkungan gerejawi juga divakumkan sementara, Pendalaman Iman di lingkungan (juga Doa Rosario bersama) yang biasanya diadakan di rumah-rumah umat secara bergantian kini untuk sementara waktu ditiadakan.
Beberapa waktu yang lalu juga saya sempat berpindah pekerjaan dan berpindah-pindah domisili ke luar daerah. Saya selama di perantauan juga nyaris tidak ke gereja.
Selama beberapa waktu (tahun 2021) mencari ‘cuan’ sampai terdampar di Karawang dan beberapa daerah di karesidenan Bogor (Bogor, Sukabumi, Cianjur). Itu saya lakukan untuk mencapai ‘passion’ saya dalam bekerja. Sejatinya bekerja merupakan salahsatu pengalaman hidup.
Saya dulu sebelum tahun 2017 juga sempat aktif di pelayanan gereja dan kelompok-kelompok kategorial paroki dan lingkungan basis gerejawi, namun satu-persatu sepertinya mulai kukurangi dan kuseimbangkan dengan waktu di pekerjaan dan keluarga di rumah, tentu tetap (saat diluar situasi pandemi) mengikuti misa dan dikala-kala waktu terkadang masih ikut kegiatan di basis ‘kring’ lingkungan gerejawi.
Ketika situasi pandemi, perayaan misa sementara waktu dilakukan secara online, saya agak kurang suka, saya lebih suka misa secara langsung seperti biasa (konvensional) di gereja tanpa melalui siaran streaming.
Namun tetap, ditengah situasi dan kesibukan pekerjaan dan urusan-urusan lain, sejatinya saya sebenarnya tetap memiliki kerinduan untuk menghadiri perayaan Misa Ekaristi.
Itu diatas adalah jawaban untuk pengalaman saya ketika ditanya kenapa kok sekarang sudah tidak aktif dan tidak kelihatan di gereja.
Berkah dalem.
Leave a Reply