Awal mula saya suka dengan Kereta Api (KA) dimulai kira-kira sejak kecil, entah dimulai tahun berapa saya lupa. Saya sejak kecil sudah mulai antusias menggemari Kereta Api (Kereta, Gerbong, Lokomotif) beserta prasarananya yang meliputi ; Stasiun, rel, persinyalan, jembatan, dll sampai dengan koleksi karcis/tiket kereta api.
Sewaktu saya kecil ayah saya sering mengajak saya untuk ‘nonton’ Kereta Api. Saya kecil sangat gembira sekali apabila bertemu dengan kereta api, jangankan keretanya, meliat relnya aja udah senang bukan main. Hingga sekarang masih menjadi penggemar kereta api.
Railfan (jamak : Railfans) adalah orang yang tertarik dalam dunia perkeretaapian.
Wikipedia.
Sekitar tahun 2009 lewat jejaring internet barulah saya mulai menjumpai orang-orang lain yang ternyata punya minat sama seperti saya yang memiliki kegemaran dengan hal-hal yang berbau kereta api, sebenarnya kehadiran mereka di ‘dunia maya’ sudah berlangsung lama, sekitar awal-awal tahun 2000an mereka sudah aktif di mailinglist seperti YahooGroups, dll yang membahas tentang kereta api.
Pertengahan tahun 2010 saya bergabung di Semboyan35.com ,sebuah forum diskusi menyangkut segala hal yang berkaitan dengan kereta api dan tetek bengeknya yang dikelola secara independen (tidak berafiliasi dengan perusahaan operator perkeretaapian). Diluar dugaan, ternyata selain saya diluaran sana banyak juga yang hobi dengan kereta api.
Dari diskusi di forum Semboyan35.com, berlanjut sampai ke ‘kopi darat’ (kopdar) juga gathering bersama. Salah satu hal yang menarik di dunia railfaning adalah photografi, ya bisa ditebak, tentu hasil bidikan fotonya adalah objek seputar perkeretaapian.
Lalu, apakah sekarang masih aktif sebagai railfan?
Ya, saya menyukai kereta api sejak dari kecil hingga sekarang masih menjadi pemerhati/peminat kereta api. Tetapi sudah beberapa tahun ini saya sedang jarang berkecimpung dengan hobi perkeretaapian untuk sementara waktu ini karena kesibukan aktifitas.
Sampai dengan tulisan ini kutulis, saya terakhir naik Kereta Api (KA) kala itu sekitar pertengahan bulan November 2017. Kala itu saya bersama rombongan teman-teman gereja mengikuti acara retret di daerah Tumpang, Kabupaten Malang.
Berangkat dari Stasiun Tegal (TG) sekitar pukul 05 pagi menggunakan KA Kaligung Ekspress dengan tujuan Stasiun SemarangPoncol (SMC) kemudian estafet dari SMC naik KA Ambarawa Ekspress tujuan Stasiun Surabaya Pasarturi (SBI) dilanjut lagi menaiki bus PO. Dali Mas yang telah ‘dicarter’ disewa rombongan dari halaman parkir Stasiun SBI sampai ke tempat retret Carmelit di Tumpang -yang sebenarnya masuk desa Ngadireso, kecamatan Poncokusumo- Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Nah, yang menarik saat bus sampai di sekitaran daerah menuju Tumpang saya teringat dengan bahasan beberapa thread di forum Semboyan 35 yang mengulas tentang jalur KA mati di Tumpang ini. Dan benar saja selama bus melewati jalan di daerah Tumpang saya menemukan beberapa ‘artefak’ kereta api, seperti jalur rel yang nampak menyembul ke permukaan tanah setelah lama jalur itu tak digunakan, juga sisa-sisa tiang sinyal mekanik telegram yang saat itu memjadi prasarana penting dalam perkeretaapian di jaman dahulu.
Acara retret di biara Carmelit Tumpang berlangsung selama sekitar 3 hari 3 malam. Setelah selesai kami kembali pulang dengan menyewa mobil travel Hiace dari tempat retret sampai ke Stasiun Surabaya Pasarturi (SBI), sebelum pulang kami menyempatkan untuk pergi Misa Minggu Pagi di Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Gereja Katedral Ijen), Kota Malang. Usai Misa kemudian jalan-jalan dulu untuk kulineran B2 (non-halal) di Jalan Kawi Atas, Kota Malang, dan berbelanja oleh-oleh bagi yang mau berbelanja. Setelah selesai berbelanja kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya.
Sampai di Stasiun Surabaya Pasarturi (SBI), perjalanan pulang ke Tegal dilanjutkan dengan menaiki Kereta Api (KA) Kertajaya menuju ke Stasiun Tegal (TG).
Cukup menyenangkan memang melakukan perjalanan menggunakan kereta api dari Tegal ke Surabaya dan kemudian kembali ke Tegal lagi saat itu, hingga saat artikel ini ditulis saya belum kembali naik kereta api lagi.
Saya sebenarnya hanya penggemar kereta api, bukan penggemar PT. Kereta Api Indonesia (PT.KAI), operator kereta api di Indonesia. Tetapi karena kereta api di Indonesia dioperasikan secara monopoli komersial oleh PT.KAI (termasuk anak perusahaannya) ya mau tidak mau juga ‘harus’ ikutan juga nge-fans dengan PT.KAI.
Seandainya operator penyelenggara angkutan kereta api di Indonesia itu seperti operator bus yang dioperasikan oleh banyak Perusahaan Otobus (PO) tentu mungkin akan menjadi bahasan yang menarik hehehe.
Salam Sepur.
Railfan Sumurpanggang, Tegal – Jawa Tengah.
Leave a Reply