Fenomena Jemaat Youtube

Syalom, berkah dalem Gusti, salam sejahtera untuk semua.

[Sebelumnya mohon maaf, baru pertama kali ini saya bahas konten artikel tentang keagamaan, Katolik.]

Lanjut tulisannya,

Pandemi Corona (termasuk beberapa jenis-jenis varian turunannya) masih melanda Indonesia secara umum. Menyebabkan kita semua untuk mengurangi aktifitas kontak fisik (phisical distancing) dengan sesama manusia untuk sementara waktu. Tentu bukan karena tanpa sebab, sebab mengurangi kontak fisik (belakangan istilah populernya adalah pembatasan sosial) dinilai merupakan salahsatu cara untuk memerangi/mengurangi penyebaran virus Corona yang sampai sekarang masih menjadi pandemi.

Dengan adanya pandemi saat ini tentu membuat kita mau tidak mau untuk mengurangi kerumunan, termasuk kegiatan peribadahan yang dilakukan secara meriah bersama-sama umat lainnya.

Bagi umat Kristen, kegiatan peribadatan secara umum di Indonesia masih ada yang dilakukan secara online, walau sebagian sudah mulai dilakukan secara offline/konvensional seperti biasa di gereja.

Bagi umat Katolik, kegiatan peribadatan di gereja seperti Misa (Ekaristi) secara online di beberapa gereja kebanyakan masih dilakukan. Biasanya yang diselenggarakan secara online adalah Misa yang mingguan.

Misa perayaan hari khusus (misalnya Jumat Pertama, Misa yang diselanggarakan setiap hari Jumat yang pertama dalam penanggalan bulan itu) dan juga Misa hari raya Katolik kadang juga ‘disiarkan’ secara online juga. Offline dan online secara bersamaan (live streaming).

Bagaimana cara pelaksanaan dari ibadah online tersebut?
Ya. Jawabannya adalah ibadah ‘lewat’ Youtube. Menjadi ‘jemaat’ Youtube hehehehe.

Maksudnya adalah ibadah yang diselenggarakan secara online langsung (live streaming), bukan video delay (video uploadan). Jadi syarat sahnya adalah yang disiakan secara langsung saat itu juga.

Kegiatan ibadah di gereja seperti biasa, dihadiri beberapa umat tetapi dibatasi hanya beberapa umat saja dan tempat duduknya di beri jarak kosong satu sama lain antar jemaat, kemudian prosesi Misa tersebut diambil gambarnya (disiarkan) melalui live streaming di Youtube untuk kemudian ‘dipraktekan’ umat dirumah untuk umat yang tidak mengikuti Misa di gereja.

Panduan Misa online adalah dengan mempersiapkan diri dengan baik, buat suasana tempat menjadi nyaman untuk berdoa (tips; bisa menyalakan lilin dan letakan aksesori sarana ibadah seperti patung Salib, Yesus, Maria, atau para Kudus atau malaikat), lakukan sikap duduk yang tenang dan ikut serta dalam praktek liturgi (berdoa dan puji-pujian) tetapi tanpa tata gerak badan (berdiam duduk ditempat).

Bagi beberapa orang, ada yang merasa kurang nyaman dengan Misa online ini, merasa kurang fokus dan kurang bisa khusyuk dalam beribadah, tidak bisa terima Komuni (diganti dengan berdoa Komuni secara batin) dan tentu beberapa umat beberapa masih ada yang (maaf) masih gagap dalam dunia teknologi, merasa terbeban dengan jaringan internet atau bahkan tidak adanya perangkat yang memadai. Ini terutama untuk jemaat-jemaat yang masuk kategori lansia.

Ya, begitulah derita Jemaat Youtube. Istilah Jemaat Youtube merupakan sebutan dari saya untuk memyebut umat yang merayakan Ekaristi secara online hehehehe.

Lalu sampai kapan menjadi jemaat Youtube?. Sepertinya tidak ada jawaban pasti hehehehe. Tunggu situasi pandemi mereda seraya menunggu keputusan dari pihak Keuskupan setempat masing-masing.

Misa offline di gereja tetap diperbolehkan hanya saja berlaku pembatasan jemaat (biasanya diisi sekitar 50 persen dari kapasitas total bangku gereja, tempat duduk di bangku gereja diberi jarak renggang satu sama lain) dan diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang ketat sesuai instruksi dari keuskupan masing-masing gereja.

Bagaimana dengan Anda, nyaman kah misa online? Atau lebih menikmati misa secara offline di gereja?

Tetapi apapun yang terjadi mari kita tanamkan sikap untuk rindu dengan Ekaristi, baik secara online maupun offline.

Salam damai, berkah dalem.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*